05 August, 2008

Orang Kampung Berjiwa kecil

Orang kampung hanya memikirkan nasib yang menyelubungi diri dan kelompoknya. Dia tidak mampu memandang jauh. Sekalipun ada internet atau TV ia tak mampu melihatlebih jauh dari dua matanya. Yang dipandang pun kekadang tidak tertafsir oleh akal dan mindanya. Apa yang dilihat itulah yang dikupas. Apa yang didengar itulah yang dikupas. Tidak lebih dari itu. Membaca jauh sekali. Membaca hanya yang sensasi. Atau yang popular. Pendekatan popular ini selalunya tidak membawa kepada fakta. Ia hanya mensensasikan berita. Popular lebih menyentuh kepada kulit lupa pada isi. Akhirnya kita tercekam pada rupa lupa pada roh. Kita hanya pandang yang cantik lupa pada yang indah. Contoh kalau kita pergi ke satu tempat kita lihat pemandangannya sungguh mengasyikan , alamak cantiknya tempat ini. Kita rasa itu tetapi bila kena ribut atau tsunami tempat itu jadi tidak terurus sama sekali dan kita anggap alamat kotornya tempat ni. Tetapi bila kita berusaha membaiki keadaan tempat tersebut, kita kemaskan dia, kita pulihkan dia, barulah datang semula keindahan yang asal, barulah kita dapati tempat ini cantik seperti asal. Sikap dan sifat kita ingin memulihkan kecantikan itulah sebenarnya keindahan jiwa. Itulah yang dinamakan keindahan. Bukan luaran(definisi apa yang kita pandang cantik) yang kita bangunkan tetapi apa yang ada dalam jiwa kita itulah yang tidak dapat dipandang kita panggil sebagai keindahan. Jiwa yang suka kepada kebaikan, kebersihan, kencantikan, kemuliaan. Jiwa da raga kita yang memantau sesuatu tempat tadi adalah gambaran fizikal luar yang kita pandang. kalau kita pergi satu tempat dan kita tidak dapat memandang sama ada itu bersih, cantik dan hebat maka itulah gambaran falsafah, terpaut pada yang cantik dan lupa pada yang indah. Maknya jiwa kita memandang kesopanan, kebaikan, keharmonian, jadi tempat itu ....

No comments: