Pak, sejak saya rajin tune in ke siaran radio Bapak, serta mengikuti juga tulisan-tulisan Bapak melalui website Bisnis Indonesia, motivasi dan cara berpikir saya perlahan berubah ke arah yang lebih baik.
Namun, hingga kini masih ada perasaan yang belum dapat saya arahkan ke arah positif. Masalahnya, tujuh hari dalam seminggu saya harus terus bekerja, Senin sampai Jumat sibuk di kantor mengejar kerjaan yang lumayan padat, terus Sabtu dan Minggu sibuk di rumah mulai dari mengurusi rumah sampai membantu usaha ibu. Sampai-sampai saya sepertinya tidak punya waktu untuk mengurusi diri sendiri dan berinteraksi dengan dunia luar.
Terkadang karena terlalu lelah saya sering sakit. Sepertinya, kalau demam sudah seperti makanan sehari-hari. Kadang terpikir untuk melepas kerjaan di rumah dan berhenti membantu ibu, tetapi rasanya tidak tega karena nyatanya hanya saya yang bisa diandalkan dalam keluarga.
Mohon petunjuk dari Bapak bagaimana saya dapat mengatur aktivitas saya yang terlalu padat tersebut. Terima kasih sebelumnya. Salam antusias.
Rini, Jakarta
(Rini____@yahoo.com).
Jawaban
Mbak Rini,
Saya pernah cerita, seorang tokoh terkenal dalam psikologi bernama Martin Seligman, pernah mengadakan penelitian dengan binatang anjing untuk meneliti soal ketidakberdayaan (helplessness).
Binatang-binatang itu dimasukkan dalam kerangkeng dan diberi aliran listrik. Awalnya binatang itu bisa keluar, tetapi lama-kelamaan peluang itu ditutup. Mereka terus saja diberikan aliran listrik. Hingga setelah sekian lama dan merasa bahwa 'itu sudah nasibnya', binatang itu pun lantas berhenti berusaha keluar dan duduk mengerang, menerima nasibnya disengat.
Tak lama kemudian, pintu peluang keluar dibuka kembali. Apa yang terjadi? Karena merasa tidak ada gunanya mencoba berusaha, maka anjing-anjing itu tetap duduk diam saja, tanpa berusaha mencoba keluar.
Nah, apakah yang bisa dipelajari dari ekperimen ini bagi situasi Anda? Minimal ada dua hal. Pertama, bahwa kita sebenarnya selalu punya pilihan. Selalu tersedia pilihan buat kita kalau kita mau mencarinya, kecuali kita mau menerima nasib kita begitu saja, seperti yang dilakukan oleh binatang tersebut. Kedua, kalaupun cara pertama kita gagal, tidak berarti kita harus menerima begitu saja dan terus-menerus menderita.
Bagaimanakah penelitian ini bisa memberikan pelajaran bagi situasi Anda? Ada beberapa poin yang ingin saya kemukakan. Pertama, banyak orang yang tahu dirinya punya masalah tetapi tidak berusaha keluar dari masalahnya. Inilah yang kita sebut sebagai ketidakberdayaan (helplessness).
Celakanya, mereka bahkan memberikan pembenaran bahwa memang sudah nasib atau sudah takdir dirinya harus demikian. Namun, di sisi lain, sama seperti anjing itu, mereka terus-menerus mengerang dan mengeluh tentang kondisi mereka. Hal ini mirip dengan situasi Anda sekarang Apalagi, sampai Anda katakan bahwa karena harus berfokus pada dua pekerjaan yang amat menyita waktu itu, tubuh Anda pun menjadi langganan penyakit.
Namun, sedikit catatan menyangkut penyakit ini, kadang pikiran kita juga ikut mempengaruhi. Kalau memang kita kurang suka, biasanya tubuh kita pun memberikan reaksi negatif. Coba tanya kepada diri Anda sendiri, bisa jadi rasa sakit itu merupakan manifestasi dari perasaan jenuh dan kesal dengan kondisi pekerjaan sekarang.
Pilihan
Sekarang mari kita bicara soal pilihan Anda. Yang jelas, kita bukanlah seperti anjing dalam penelitian yang harus menerima begitu saja tatkala disengat. Kita bisa membuat pilihan, misalnya bicara dengan ibu Anda.
Saya teringat dengan salah satu kasus rekan saya yang diminta praktik bersama dengan ayahnya di suatu klinik. Bertahun-tahun dia merasa tersiksa hingga akhirnya dia bicara. Tahu reaksi bapaknya? "Kok kamu baru bilang sekarang. Saya pikir kamu malahan senang praktik dengan saya."
Bayangkanlah situasinya. Masalahnya adalah ternyata si anak itu sendiri tidak pernah bicarakan soal ganjalannya. Sama seperti situasi Anda, mungkin justru dengan mencari timing yang tepat untuk bicara dengan ibu Anda bisa didapatkan solusi yang tepat, misalnya apakah dengan mencari pembantu lain yang bisa bantu mengurus usaha?
Tapi yang terpenting adalah kembali kepada diri Anda Mbak Rini. Sampai kapan Anda bersedia menerima kondisi ini? Mungkin ini juga suatu kesempatan bagus bagi Anda untuk mulai berpikir apakah selamanya bekerja di kantor atau akhirnya akan fokus membantu usaha ibu.
Cobalah tanyakan pada hati kecil Anda, apa yang paling Anda sukai. Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Kalau sudah demikian, buatlah langkah kecil yang mengarah ke pilihan Anda tersebut. Misalkan, kalau ternyata Anda lebih berat memilih membantu usaha Ibu, berarti pelan-pelan Anda akan meninggalkan pekerjaan. Nah, kalau demikian pikirkan berapa lama kira-kira Anda akan bekerja lagi. Dan bagaimana Anda mulai akan memfokuskan pada usaha ibumu?
Atau, kalau pilihan Anda adalah meniti karier di kantor, berarti menuntut Anda untuk memikirkan bagaimana membatu usaha ibu secara moril saja ke depannya. Mulai sekarang harus dipikirkan siapa yang diperbantukan ke usaha ibu?
Pilihan paling berat adalah tetap mempertahankan posisi sekarang dengan berpijak ke dua kaki, mengurusi usaha ibu sambil bekerja. Sebenarnya saya yakin keduanya bisa diintegrasikan, hanya saja butuh usaha yang ekstra dari Anda serta cara mengelola waktu dan disiplin yang berbeda.
Kalau mau tetap ingin pilihan keduanya jalan seimbang, kiatnya hanya satu, mendisiplinkan diri dalam waktu bekerja dan bekerja dengan lebih smart lagi. Tanyakan dua hal di sini, pertama bagaimana saya bisa mengatur waktu yang lebih efektif lagi. Kedua, bagaimana cara kerja saya sekarang ini, bisa dibuat menjadi lebih cerdik sehingga akhirnya bisa punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri?
Mungkin di sinilah Anda harus mencoba mencari pembantu, belajar mendelegasikan pekerjaan, menciptakan sistem yang lebih mudah. Intinya, Anda punya pilihan! Lihatlah kembali bagaimana cara dan kebiasaan Anda menata hidup Anda dan rancang lebih baik serta lebih cerdik lagi. Hidup ini terlalu sayang dilewati dengan hal-hal yang kita tidak sukai sambil terus meratapi, sementara mungkin ada pilihan lain yang tersedia buat kita.
No comments:
Post a Comment